CAKRA PENA

Apapun yang kau lakukan....Apapun Itu.... Jangan pernah sia-siakan "Waktu"






Blog ini terhubung dengan facebook dan twitter,
Apabila anda telah "Log In" pada jejaring sosial tsb. Maka akan sangat memudahkan ^_^
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Pada suatu malam, ada seorang Santri yang bertanya kepada Kiyai. Karena dia memiliki masalah yang baginya sangat sulit untuk mengambil keputusan,.

Santri ini Bertanya Kepada Kiyai Apa yang Harus Dilakukan Kalau Dia Menyukai Wanita Lain, Selain Istrinya.

Santri : pak Kiyai yang bijaksana, aku seorang yang sudah menikah, tapi sekarang ini aku sedang menyukai seorang wanita lain. Aku nggak tahu harus memilih siapa ?

Kiyai : Kamu yakin wanita yang kamu suka ini adalah dia yang bisa menemanimu seumur hidupmu ?

Santri : Ya pak Kiyai, aku yakin.

Kiyai : Kalau begitu langsung saja cerai dan nikahi dia.

Santri : Tapi istriku yang sekarang ini baik hatinya dan bermoral, kalau aku menceraikannya, apa aku tidak bersalah

Kiyai : Pernikahan yang tidak ada cinta itu penuh penderitaan dan bukan hal yang baik. Kalau kamu sangat mencintai wanita yang kamu sebutkan dan tidak mencintai istrimu, bercerai tidak terlihat bersalah.

Santei : Tapi istriku sangat mencintai aku.

Kiyai : Itu berarti dia adalah wanita yang beruntung.

Santri : Kalau aku bercerai dan menikahi wanita lain, harusnya dia akan sedih, kenapa anda bilang dia wanita yang beruntung ?

Kiyai : Karena dia masih mencintai anda dan pernikahan anda. Sebenarnya yang masih mencintailah yang beruntung dan yang sudah kehilangan cintalah yang akan menderita. Karena itu dalam kasus ini, andalah yang akan mengalami penderitaan dan kesedihan.

Santri : Tapi kalau aku menceraikan dia dan menikah dengan orang lain, bukankah dia yang kehilangan aku ?

Kiyai : Anda salah, istrimu menjaga cintanya di dalam pernikahan sedangkan anda tidak. Dia akan tetap merasa di cintai walaupun anda menceraikannya dan suatu hari nanti ada pria lain yang mencintainya. Sedangkan anda akan kehilangan cinta di dalam kehidupan anda.

Santri : Dia berkata kalau dia hanya akan mencintaiku

Kiyai : Apakah kamu pernah mengatakan kata kata itu kepadanya ?

Santri : AKu........

Kiyai : Coba anda lihat 3 lilin yang ada di depan anda, lilin mana yang paling terang ?

Santri : Aku tidak bisa membedakannya..

Kiyai : 3 lilin ini sama seperti 3 wanita , salah satunya seperti istri anda, tapi anda tidak bisa membedakannya. Wanita di dunia ini begitu banyak, kalau kamu saja tidak bisa membedakan lilin mana yang  paling terang. Bagiamana mungkin kamu bisa menentukan siapa yang akan menemanimu seumur hidup ?

Santri : Akuu..

Kiyai :  Sekarang ambil salah satu lilin dan taruh di dekatmu dan coba lihat sekali lagi, lilin mana yang tampak paling terang ?

Santri : Nggak perlu di ragukan lagi, pasti yang ada paling dekat denganku..

Kiyai : Kembalikan dia ketempatnya, dan lihat mana yang paling terang ?

Santri : Aku tidak bisa membedakannya lagi .

Kiyai : Sebenarnya lilin yang kamu gerakkan tadi bisa diibaratkan seperti wanita selain istrimu yang kamu cintai. Waktu kamu mencintai dia, semuanya terlihat indah, sama seperti lilin yang kamu dekatkan dia terlihat lebih terang, tapi begitu cinta itu pudar, semuanya akan menjadi sama lagi.

Santri : pak Kiyai, aku mengerti , anda bukan ingin supaya aku bercerai, tapi anda ingin aku terus mencintainya.

Kiyai : Pergilah anak muda, jalani hidup dengan istrimu.

Santri : pak Kiyai, saya tahu harus mencintai siapa, istriku tidak akan pernah bisa tergantikan..

Cerita ini fiksi. Semoga menjadi renungan kita

MENANGIS

Kamis, 09 Agustus 2012 0 komentar


Sehabis sesiangan bekerja di sawah-sawah serta disegala macam
yang diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di
pedalaman, Abah Latif mengajak para santri untuk sesering
mungkin bersholat malam.
Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali
memasuki kalimat " iyyaka na'budu " Abah Latif biasanya lantas
terhenti ucapannya, menangis tersedu-sedu bagai tak
berpenghabisan.
Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat untuk melampaui
kata itu, Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya
mengucapkan " wa iyyaka nasta''in" .
Banyak di antara jamaah yang turut menangis, bahkan terkadang
ada satu dua yang lantas ambruk ke lantai atau meraung-raung.
"Hidup manusia harus berpijak, sebagaimana setiap pohon harus
berakar," berkata Abah Latif seusai wirid bersama, " Mengucapkan
kata-kata itu dalam Al-fatihah pun harus ada akar d an
pijakannya yang nyata dalam kehidupan. 'Harus' di situ titik
beratnya bukan sebagai aturan, melainkan memang demikianlah
hakikat alam, di mana manusia tak bisa berada dan berlaku
selain di dalam hakikat itu."
"Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," gemeremang mulut para santri.
" Jadi, anak-anakku," beliau melanjutkan, " apa akar dan pijakan
kita dalam mengucapkan kepada Alloh ..iyyaka na'budu?"
"Bukankah tak ada salahnya mengucapkan sesuatu yang toh baik dan
merupakan bimbingan Alloh itu sendiri, Abah?" bertanya seorang
santri.
"Kita tidak boleh mengucapkan kata, Nak, kita hanya boleh
mengucapkan kehidupan."
"Belum jelas benar bagiku, Abah?"
" Kita dilarang mengucapkan kekosongan, kita hanya diperkenankan
mengucapkan kenyataan."
"Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," geremang mulut para santri.
Dan Abah Latif meneruskan, " Sekarang ini kita mungkin sudah
pantas mengucapkan iyyaka na'budu.KepadaMu aku menyembah.Tetapi
kaum Muslimin masih belum memiliki suatu kondisi keumatan untuk
layak berkata kepadaMu kami menyembah, na'budu."
"Al-Fatihah haruslah mencerminkan proses dan tahapan pencapaian
sejarah kita sebagai diri pribadi serta kita sebagai ummatan
wahidah.Ketika sampai di kalimat na'budu, tingkat yang harus kita
telah capai lebih dari abdullah, yakni khalifatulloh.Suatu maqom
yang dipersyarati oleh kebersamaan kamu muslim dalam menyembah
Alloh di mana penyembahan itu diterjemahkan ke dalam setiap
bidang kehidupan.Mengucapkan iyyaka na'budu dalam sholat mustilah
memiliki akar dan pijakan di mana kita kaum muslim telah membawa
urusan rumah tangga, urusan perniagaan, urusan sosial dan politik
serta segala urusan lain untuk menyembah hanya kepada Alloh.Maka
anak-anakku, betapa mungkin dalam keadaan kita dewasa ini lidah kita
tidak kelu dan airmata tak bercucuran tatkala harus mengucapan
kata-kata itu?"
"Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," gemeremang para santri.
"Al-fatihah hanya pantas diucapkan apabila kita telah saling
menjadi khalifatulloh di dalam berbagai hubungan kehidupan.Tangis
kita akan sungguh-sungguh tak tak berpenghabisan karena dengan
mengucapkan wa iyyaka nasta'in, kita telah secara terang-terangan
menipu Tuhan.Kita berbohong kepada-Nya berpuluh-puluh kali dalam
sehari.Kita nyatakan bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada
Alloh, padahal dalam sangat banyak hal kita lebih banyak
bergantung kepada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang pada
hakikatnya melawan Alloh."
Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," geremang mulut para santri.
"Anak-anakku, pergilah masuk ke dalam dirimu sendiri, telusurilah
perbuatan-perbuatanmu sendiri, masuklah ke urusan-urusan manusia di
sekitarmu, pergilah ke pasar, ke kantor-kantor, ke
panggung-panggung dunia yang luas: tekunilah, temukanlah salah
benarnya ucapan-ucapanku kepadamu.Kemudian peliharalah kepekaan dan
kesanggupan untuk tetap bisa menangis.Karena alhamdulillah,
seandainya sampai akhir hidup kita hanya diperkenankan untuk
menangis karena keadaan-keadaan itu : airmata saja pun sanggup
mengantarkan kita kepada-Nya."
----------------------------------------------------
Dari :
Emha Ainun Nadjib (1987)
Seribu Masjid Satu Jumlahnya
Tahajjud cinta seorang hamba